AGAR TAK JENUH, MALCOLM-JAMAL WARNER MELAYANI CEWEK-CEWEK YANG MENGUBER-UBERNYA
CAKEP. Waktu syuting buat film terbarunya (kala itu), The
Father Clements Story, Malcolm-Jamal Warner alias Theo Huxtable dalam Cosby Show
(di Indonesia diputar TVRI-red), selalu dikejar-kejar cewek-cewek penggemarnya.
Apalagi tempat pengambilan gambarnya dekat dengan sekolahan.
“Untung saja gadis-gadis itu tak banyak menimbulkan persoalan. Dia memang lebih cakep daripada yang terlihat di film,” ucap seorang petugas keamanan di Chicago. Malcolm sendiri tampaknya senang melayani mereka. “Lumayan buat bercanda, menghilangkan kejenuhan.” Film The Father Clements yang bermasa putar sekitar 2 jam ini telah diputar di TV sana, 13 Desember 1987 lalu.
Tak hanya aktingnya yang mendapatkan pujian, pribadinya pun banyak yang menilai baik. Seperti kata guru privatnya, DR. Ibrahim Abdul Malik, ‘Anak muda yang cukup sensitif. Jiwanya mudah tersentuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan.” Malcolm memang (waktu itu) masih rajin berkampanye buat remaja untuk tak terlibat sama narkotika.
“Pemuda yang dapat dibanggakan. Tidak mudah terbawa arus. Sebagai aktor muda, ia punya harapan besar di dunia akting. Sudah ada tanda-tanda dia akan menjadi bintang besar,” komentar ini dikeluarkan teman mainnya di film terbarunya (kala itu) itu, Louis Gosset Jr. Di sini nama aktor berkulit hitam itu pernah akrab lewat Matthew Star dan Lazarus Syndrome. Pamela Warner, ibu Malcolm, tak menduga jika anaknya begitu cepat dewasa.
“Dia memiliki idealisme tinggi, aku tak tahu bagaimana kalau dia nanti telah berumur 21.” Pamela mengaku tidak mendidik Malcolm kelewat Istimewa. “Tapi aku bisa merasakan bahwa dia mempunyai dasar pemikiran yang baik. Aku tak pernah memaksa untuk selalu memberikan pengarahan. Jika aku mulai menegurnya, dia akan cepat memotong, “Aku sudah tahu apa yang akan ‘mom’ katakan”. Dan dia lalu bejranji dan tak akan mengulang kesalahan.”
CERAI. Malcolm, kelahiran New Jersey, 18 Agustus 1970, ini
meamng begitu patut sama ibunya. Barangkali juga ia tahu bahwa kegagalan
perkawinan orangtuanya, sempat membuat ibunya menderita. Makanya, Malcolm
selalu menjaga untuk tidak menyakiti.
Perceraian orangtuanya terjadi saat Malcolm baru berusia 5 tahun. Ia kemudian dibawa Pamela ke Los Angeles. Sedangkan ayahnya yang bermukim di Chicago, (waktu itu) telah menikah lagi dan punya beberapa anak. Malcolm yang biasanya mengisi kegiatan dengan bermain basket ini, lalu dianjurkan ibunya ikut teater. Pengalaman Malcolm yang sudah ikutan main film ketika umur 3 tahun, rupanya mendorong Pamela untuk mengarahkan anaknya bergelut di dunia akting.
Berkat ibunya jualah bila ia bisa main film Fame (di Indonesia diputar RCTI-red), Matt Houston, Call To Glory, hingga Cosby Show (ketiganya di Indonesia diputar TVRI-red) yang melambungkan namanya. “Ada ratusan anak yang dipanggil dan dites, aku tak tahu kenapa Bill memilihku. Mungkin saja aku mirip dengan anak laki-lakinya, Ennis,” kenangnya. Karakter Joey – begitu nama tokoh yang ia perani – dalam The Father Clements Story, kata Malcolm berbeda sekali dengan Theo.
Kalau di Cosby ia sangat rukun dengan ayahnya, di film keluaran NBC ini justru sebaliknya. Inti cerita memang mengetengahkan perbedaan pendapat antara bapak dan anak. “Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak hanya bisa memainkan tokoh yang bernama Theo saja,” ujarnya. Malcolm yang bertinggi 172 ini memang sudah terlanjur diidentikkan Theo. Sampai-sampai Malcolm dijadikan figur yang banyak ditiru para remaja (era itu) sana.
Namun, Malcolm sendiri tak menghendaki itu. “Aku terlalu muda untuk dijadikan contoh. Aku bukanlah orang yang tepat,” kata-kata itu kerap dilontarkannya. Kenyataannya, Malcolm memang tak berbeda dengan remaja (era itu) seusianya. Ia juga terkadang berbeda pendapat dengan ibunya, senang pergi ke pesta, atau berhura-hura sama teman-temannya.
Bedanya, kata Malcolm, waktunya buat bermain tak sebanyak yang lainnya. “Pada musim panas kemarin, aku hanya sebentar bisa bermain basket. Sebab, jadwal rekaman telah mulai lagi.” Ditanya soal cewek, Malcolm hanya berkomentar singkat, “Aku selalu berhati-hati.”
Ditulis oleh: Tavip Riyanto
Dok. Monitor – No. 65/II/minggu ke-5 Januari 1988/27 Januari-2 Februari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar