VISI - POLA MENONTON, PENONTON POTENSIAL, DAN ACARA HEBAT YANG TERJUNGKAL

TARGET, TEROBOSAN. Penempatan satu mata acara pada jam yang tepat, memang berperan sangat besar bagi sukses acara itu. Sehebat apapun sebuah acara, kalau ditayangkan pada saat yang tidak tepat, tetap saja tak akan menyisakan gema. Sebuah acara paling amburadul sekalipun, tetap akan mendapat perhatian kalau ditayangkan pada jam-jam utama (‘prime time’), saat hampir seluruh anggota keluarga tengah santai di depan pesawat televisi.

 











Sebagai ‘comic relief show’, Super Blooper and New Practical Jokes (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red) dan Candid Camera (di Indonesia diputar ANTV-red), tak kalah hebat dibanding America’s Funniest Home Video (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red). Sebagai ‘soap opera’, Another World (diputar di Indonesia oleh RCTI Jakarta, tapi selama itu tidak direlay RCTI Bandung/SCTV-red), tak kalah menarik dibanding Wild Rose atau No One But U.

 











Tapi kalau yang satu banyak dibicarakan, sementara yang lain seolah diabaikan, itu semata-mata karena penempatan jam siarnya. Dengan ditayangkan pada jam 12.00, Wild Rose dan No One But U (keduanya diputar di Indonesia oleh RCTI sekaligus SCTV-red) jelas punya kemungkinan lebih besar untuk berkenalan dan berakrab-akrab dengan para ibu rumah tangga, yang selama itu diasumsikan doyan segala macam jenis ‘soap opera’.

 











Tentu para ‘programmer’ TVRI, TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), dan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)/SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) punya sederet alasan ketika menempatkan suatu mata acara pada jam tertentu. Tapi, bahwa 1993 ini masih banyak acara-acara yang ditayang pada saat yang tidak tepat, ini juga fakta. Memutar komedi pada jam 10.00 pagi atau lewat tengah malam, misalnya, bisa dipertanyakan alasan yang dipakai.

Atau memutar ‘soap opera’ saat sebagian penonton potensial sudah terlelap. Jam-jam menonton, memang selalu dijadikan pedoman para ‘programmer’ dalam menempatkan suatu mata acara. Kalau pagi dan sore hari acara teve didominasi film kartun, itu karena asumsi pada jam-jam itulah anak-anak (era itu) nongkrong di depan pesawat televisi.

Selama bertahun-tahun kebiasaan menonton masyarakat Indonesia sudah “dididik” oleh TVRI. Tapi, 1993, setelah TVRI tak lagi sendirian, ada perubahan besar dalam pola menonton. Dan terobosan-terobosan program yang disuguhkan RCTI/SCTV, sungguh suatu langkah kompetitif yang berani. Tak berlebihan kalau dikatakan, 1993 ini RCTI/SCTV-lah yang berperan paling besar dalam membentuk pola menonton masyarakat, terutama di wilayah jangkauan siarnya.

Dengan segala macam programnya, dan penempatan jam siar dengan mempertimbangkan target ‘audience’ yang potensial, membuat acara-acara RCTI jauh lebih bunyi dibanding tayangan stasiun lain (TVRI, ANTV, TPI-red). Dulu (sebelum 1989-red), saat zamannya TVRI, jam 18.00 nyaris tidak ada tayangan acara yang dianggap unggulan.

 
















Tapi, 1993, dengan seri Doogie Howser, Swamp Thing, Gara-Gara, Tarzan, Dongeng Langit, RCTI/SCTV berhasil membuat penonton untuk tak mengabaikan televisi pada jam-jam itu. Jurus program RCTI/SCTV ini berhasil mengubah pola menonton sekaligus membuat pesaingnya (TVRI, ANTV, TPI-red) terabaikan.

1993 ini, RCTI boleh disebut berada di rating pertama, mengalahkan TVRI, ANTV (Andalas Televisi), dan TPI. Film seri, baik yang eksyen maupun komedi, punya RCTI jauh lebih dikenal dibanding TVRI, ANTV, dan TPI. Melawan tayangan pada jam-jam ‘prime time’ yang oleh RCTI/SCTV diisi segala macam seri unggulan, dengan paket-paket produk lokal yang kualitasnya perlu dipertanyakan, layak dipertayangkan keyakinan programmernya.

TPI yang memutar Serbaneka bersamaan dengan saat RCTI/SCTV menayangkan Seputar Indonesia, juga langkah yang terlalu berani. Alasannya sederhana saja, Serbaneka (waktu itu) belum membuktikan lebih unggul dibanding Seputar Indonesia.

 















Apalagi, 1993 ini, saat Seputar Indonesia tengah berada di puncak kejayaan. Acara-acara TPI (waktu itu) sebetulnya banyak yang hebat dan menarik. Tapi kalau selama itu yang sangat dikenal seolah hanya Mahabarata, Ramayana, dan sinetron Kedasih, rasanya ada yang salah dengan konsep programnya. Paul Klein, seorang kritikus, juga ‘programmer’ jempolan, punya rumusan sederhana.

 
















Katanya, untuk membuat sebuah acara ditonton, tak perlu membuat sebagus-bagusnya. Cukuplah membuat acara yang sedikit lebih bagus dibanding acara yang ditayangkan stasiun teve lain pada saat yang bersamaan. Kalau tak yakin acaranya sedikit lebih bagus, sebaiknya ya jangan diputar pada jam yang sama. Sebuah rumusan yang sederhana, realistis, masuk akal, dan bisa dicoba, kalau mau.

Ditulis oleh: Yanto Bhokek

Dok. Bintang – No. 127/Th. III/minggu keempat Juli 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer