TIPS MENJADI SEORANG 'DUBBER'

 Suasana pengisian suara, atau lebih dikenal dengan istilah ‘dubbing’

SEJAK munculnya kewajiban untuk mengisi suara (‘dubbing’) film-film asing non-Inggris, seolah ada warna baru dalam dunia jasa jual suara. Semakin banyaknya film non-Inggris yang dialihbahasakan, semakin banyak pula kebutuhan stasiun TV atau ‘production house’ (PH) memanfaatkan jasa ‘dubber’.

Semakin menjamurnya PH berarti semakin memberi harapan terhadap profesi baru (wkatu itu), yang sebenarnya (kala itu) sudah lama ada. Menjadi seorang ‘dubber’ ternyata tidak sulit, banyak jalan bisa ditempuh, baik melalui proses belajar sendiri atau belajar di tempat-tempat pelatihan vokal.

Pasaran seorang ‘dubber’ saat itu boleh dikata sedang bagus-bagusnya. Bagi pemula, untuk menyelesaikan film dengan durasi 30 sampai 45 menit bisa menerima honor sekitar 15-25 ribu rupiah. Dan itu bisa diselesaikan dalam waktu satu sampai dua hari.

Lain lagi dengan yang (waktu itu) sudah punya nama. Misalnya saja Maria Oentoe, Bahar Mario, atau Ferry Fadli. Tarif mereka mencapai 100-150 ribu rupiah. Bila Anda (waktu itu) ingin belajar menjadi seorang ‘dubber’ secara otodidak, (waktu itu) cobalah praktekkan kiat berikut:

1.       Belajarlah berkonsentrasi memahami peran yang akan Anda mainkan.

2.       Coba ikuti sandiwara radio, dan amati dialognya.

3.       Belajarlah untuk selalu mengingat suatu dialog. Makin banyak yang Anda ingat, semakin lancar proses ‘dubbing’, suatu film. Itu sebabnya, seorang ‘dubber’ harus memiliki IQ tinggi.

4.       Jangan putus asa bila suara jelek, karena kebutuhan peran tidak selalu identik dengan kebutuhan ‘dubber’. Pengisi suara mak lampir (Asriyati, Sanggar Prathivi) misalnya, suaranya jelek, tapi pas untuk peran mak lampir.

5.       Banyaklah membaca. Dengan membaca seseorang akan lebih mudah melatih emosi atau imajinasi.

6.       Percaya diri (Tidak mudah grogi) dan ketekunan merupakan kunci menuju sukses sebagai seorang ‘dubber’.

7.       Bila Anda bukan pemain taeter jangan keceaw. Pemain teater belum tentu berhasil menjadi ‘dubber’. Mereka sering mengalami kesulitan mengembangkan kemampuannya menjadi ‘dubber’ untuk audiovisual. Dalam sandiwara radio (waktu itu) akan kelihatan vokal yang terlatih atau tidak.

Selain menerapkan cara-cara di atas, belajar di tempat resmi atau tempat-tempat latihan vokal tampaknya lebih afdol. Dua di antara beberapa tempat pelatihan vokal di Jakarta adalah Sanggar Prathivi atau PH Idola dan satu lagi yang dikelola oleh RRI. Maria Oentoe, dari PH Idola menjelaskan lamanya pelatihan tersebut berkisar antara 3-6 bulan. Dan sesudahnya Anda dianggap telah mampu menjadi ‘dubber’.

Kepandaian atau keterampilan kalau tidak dimanfaatkan akan sia-sia. Begitu pun seorang ‘dubber’. Setelah Anda punya keterampilan tersebut, (waktu itu) cobalah tawarkan jasa pada PH-PH yang banyak men-‘dub’ film-filmnya untuk tayangan TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) atau RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)-SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Di antaranya:

1.       PH Idola, Jalan Sapta no. 41 (Pancoran), Jakarta Selatan.

2.       PH Scorta, Jalan Suryopranoto no. 2 (komplek Harmoni Plaza), Jakarta Pusat.

3.       PH Arvisco, Jalan Subur no. 31, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

4.       PH Santos, Jl. Suryopranoto 11E, Jakarta Pusat.

5.       PH Viva Pro, Jakarta, telepon 6691885.

Dok. Citra – No. 120/III/15-21 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer