SIARAN LANGSUNG DOUGLAS VERSUS HOLYFIELD (RCTI/SCTV – JUMAT, 26 OKTOBER 1990 Pk: 08.00 WIB)

 

Serangkaian adegan saat Douglas menumbangkan “sang baja” Mike Tyson, beberapa saat yang sebelumnya

James Douglas, sang pembasmi 

Evander Holyfield, sang penantang 


OLAHRAGA tinju profesional memang jadi tontonan yang (waktu itu) banyak digandrungi. Jelas, kegandrungan itu lebih banyak berupa suguhan penampilan beragam tipe petinju, baik dari kekuatan fisik maupun otak, sampai dengan kekhasan penampilan.

Di balik itu semua, ada kenyataan tersendiri yang hampir pasti dialami semua petinju profesional: dunia yang serba tidak jelas. Artinya, menang atau kalah, kelanjutan hidup mereka di dunia tinju, ibarat menangkap serpihan kapas yang melayang-layang di udara. Kalau terus sukses, Syukur-syukur dapat mengumpulkan kekayaan. Agar di hari tuanya bisa hidup tenang.

Di balik itu semua, ada kenyataan tersendiri yang hampir pasti dialami semua petinju profeisonal: dunia yang serba tidak jelas. Artinya, menang atau kalah, kelanjutan hidup mereka di dunia tinju ibarat menangkap serpihan kapas yang melayang-layang di udara. Kalau terus sukses, Syukur-syukur dapat mengumpulkan kekayaan. Agar di hari tuanya bisa hidup tenang.

Jika sebaliknya, entahlah. Apakah jatuh melarat, diumpat penggemar tinju, atau ditinggalkan promotor tinju. Semuanya memang bak kenyataan hidup yang pahit. Terlepas dari segala baik-buruknya dunia tinju, membangun karir di dunia adu jotos ini tetap saja merupakan bahan yang tampaknya takkan habis digarap.

Kemenangan James “Buster” Dogulas atas Mike Tyson, Februari 1990, memang mengejutkan para peminat tinju internasional. Dengan tinggi badan 190 sentimeter dan berat sekitar (waktu itu) 115-130 kilogram, pemuda negro (era itu) ini boleh dibilang ibarat sosok pemenang yang terangkat dari tempat sampah. Mengapa? Karena sebelumnya ia tidak terlalu dianggap hebat dalam dunia tinju prof.

Douglas, lahir 7 April 1960 di Columbus, Ohio, AS, baru meraih gelar juara dunia kelas berat pada umur 30. Ukuran usia ini kerap dianggap sebagai prestasi yang “Terlambat.” Sejak 30 Mei 1981 sampai 10 Februari 1990, catatan prestasinya adalah – menang, kalah, seri – 30-4-1. 20 di antaranya dimenangkan dengan ‘knockout’.

Sewaktu merobohkan Tyson, ada yang menilai kemenangannya bak eksyen dalam film saja. Tapi ia tak peduli dan tetap semangat. Termasuk menjelang berlaga melawan Evander Holyfield. “Bukan Evander yang saya hadapi, tapi diriku sendiri,” ungkapnya. Douglas sendiri menghormati calon lawannya ini sebagai “pendatang baru.” Meskipun ia toh lebih menghargai dirinya dan merasa sudah siap menghadapi, “Holyfield akan jatuh dan takkan berdiri lagi.”

Keteguhan niat pemuda negro (era itu) ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh kedua orangtuanya. Ayahnya sendiri, Billy Douglas adalah bekas petinju. Sementara itu, John Johnson, manajer Douglas, berpendapat bahwa tak ada orang yang punya kehendak lebih kuat selain ibunya agar sang anak berkarir di kelas berat.

Gara-gara menang atas si leher beton, Tyson, Douglas tampaknya ingin juga mengecap perubahan. Di antaranya, berniat mengganti mobil Cadillac-nya dengan yang lebih bagus, dan membeli ‘boat’, perahu bermesin. Tapi toh masih sempat memikirkan soal kemiskinan.

“Dengan senang hati saya akan membantu orang-orang yang ingin maju tapi kekurangan uang.” Atau juga sesuatu yang tak jelas apa maunya. “Menjadi juara di luar ring tinju, seperti orang terhormat dan sebagai teladan bagi anak-anak muda.”

SEMENTARA itu, seperti biasa kalau sang penantang punya rekor tak terkalahkan, justru inilah yang sering jadi bahan utnuk memanas-manasi para petinju bersangkutan.

Sama-sama berkulit hitam, Eander Holyfield – kelahiran Atmore, AS, 19 Oktober 1962 – menarik perhatian dunia tinju AS, meraih medali perunggu dalam Los Angeles Games, 28 Mei 1986, melawan Terry Mimms. Masih pada than yang sama, pada 20 Juli, ia juga meraih gelar WBA Junior kelas berat dan IBF untuk kategori ‘cruiserweight’. Rekor tinjunya mulai 15 November 1984 hignga 1 Juni 1990 tercatat – menang, kalah, seri – 24-0-0. Sama seperti Douglas, 20 di antaranya juga didapat lewat KO.

Sebagai petinju kelas berat, Evander menganggap memiliki kesamaan dengan petinju negro lainnya, Michael Spinks. “Kami punya gaya bertinju yang mirip, lebih dari itu, kita sama-sama petinju otak.” Berbeda dengan Douglas, karir Evander ternyata didukung oleh sikap mengerti sang istri. “Ia mengerti benar.”

Entah benar atau tidak, ia juga yakin akan semangat yang dimilikinya menjelang pertandingan di Las Vegas, 25 Oktober 1990 ini. “Saya adalah petinju yang terbaik dalam kondisi dan teknik.” Di samping itu, yang paling pokok adalah kecerdikannya di pentas ring. “Kalau terlalu “panas” di dalam, saya akan keluar. Jika kelewat “panas” di luar, saya akan masuk.”

Menjelang pertarungan dua negro ini, yang tak kalah gelisah adalah para promotor maupun penyedia modal. Yang terakhir ini dikuasai oleh Steve Wynn. Pertandingan itu sendiri berlangsung di hotel miliknya. Mirage, yang berada di Las Vegas. Kemampuan Wynn mendapatkan hak tesebut memang berkesan sinting: ia sanggup menyediakan modal sebesar 32 juta dolar – kendati ini belum termasuk tambahan biaya promosi.

Toh kehebatan tersebut (waktu itu) masih disorot bnayak pihak. Andai Douglas menang, Wynn dapat mengatur kejuaraan tinju kelas berat berikutnya dengan segala tetek bengek perhitungan ekonominya. Kalau sebaliknya, ia harus mundur. Dan bergabung dengan promotor-promotor lain yang tak punya apa-apa dibandingkan Don King, Bob Arum, maupun kelompok Duva.

Nama-nama yang terakhir ini, memang ibarat tokoh yang ternyata lebih berkausa di balik laayr pertandingan tinju. Contohnya, ketika Douglas menang atas Tyson, promotor Bob Arum berusaha merangkulnya. Sekaligus juga agar si petinju memutuskan kontrak dengan Don King. Bukan apa-apa. Bob menganggap Douglas bukan barang “panas” dan senjata yang paling ampuh untuk mengalahkan dominasi Don King.

Nyatanya, Douglas malah beralih ke promotor lainnya. Akibatnya? Bob bergabung dengan King dan membuat rencana pertandingan lain yang bisa membuahkan hujan rejeki. Seperti niat untuk menampilkan kembali George Foreman atau Mike Tyson. Sebelum itu, kedua promotor ini memang sudah dikenal meraup keuntungan dari penyelenggara pertandingan tinju kelas berat. Padahal pertarungan 15 ronde itu kebanyakan selesai dalam waktu 15 menit saja.

Akhirnya, lepas dari siapa yang untung dan buntung, ada pertandingan yang bisa lebih menyedot uang dibandingkan Douglas dan Holyfield, mengulang lagi adu jotos antara Douglas dengan Tyson.

Ditulis oleh: Christantiowati/Frans Kowa

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer