RUMAH MASA DEPAN TANPA MENGHITAMPUTIHKAN MASYARAKAT DI PEDESAAN (RMD, TVRI – MINGGU, 4 SEPTEMBER 1988 Pkl: 12.30 WIB)
PERSEPSI sineas kita tentang sosok orang desa, sampai hari
itu, agaknya (perkiraan waktu itu) masih centang perenang. Postur mereka acap
digambarkan secara hitam putih. Perbandingan tingkat sosialnya pun diungkapkan
secara diametral. Yang kaya dilukiskan dengan penampang kebendaannya, sedang
yang miskin kerap dilukiskan dengan kepapaannya.
Rumah Masa Depan (RMD/TVRI) garapan Ali Shahab, juga tak terlepas dari persepsi yang begitu macam. Kalau kemudian ada yang menarik, yang memberikan gambaran usaha Ali Shahab untuk mencoba menyeruak sisi lain di luar perbandingan yang diametral itu.
Kita melihatnya dari kemampuan dia untuk juga mengusik tentang jati diri orang miskin. Kalimat “Kita orang miskin, tak punya hak untuk sakit hati,” yang bernada kepasrahan, bisa berkembang menjadi, “Kita sudah tidak punya apa-apa lagi, kecuali harga diri.”
Episode yang satu dengan episode yang lain saling melengkapi. Sehingga pemirsa, setidaknya bisa mengambil suatu rangkaian hikmah yang satu dengan lainnya, saling mengisi dan berhubungan. Episode Orang Di Atas Angin dengan Anak-Anak Yang Terbuang, umpamanya bisa dilihat sebagai gambaran. Bahkan antara episode Yang Lepra Yang Terhina dengan Mereka Yang Terpisah bisa saling melengkapi.
Meski pada Mega-Mega Perkawinan dan Bila Musibah Menguak Luka dan Sepeda Pak Darman, kita melihat Shahab rada terjebak pada romantisme desa. Pada situasi desa sebagai suatu tempat persemaian hati nurani. Walaupun, semua itu sebenarnya sah saja.
Sebagai salah satu film seri produk dalam negeri terbaik yang pernah ditayangkan TVRI, bolehlah disebut RMD punya nilai tersndiri. Bahkan disimak dari temanya, dapat dibilang RMD punya nilai edukasi yang lebih dibanding Kisah Serumpun Bambu atau Unyil (keduanya juga diputar TVRI-red). Bahkan dari pola penggarpaannya, secara sinematografis RMD (waktu itu) termasuk unggul.
Kalaupun kemudian terasa ada hal yang janggal, hal itu terutama karena Shahab mencoba keluar dari format film seri pada umumnya. Antara lain dengan tidak menghadirkan pemeran utama sebagai fokus cerita dan tokoh sentral di setiap episode. Selebihnya, tokoh sentral RMD – Keluarga Pak Sukri – ditempatkan sebagai dewa. Seperti penilaian A. Hamid Arief, pemeran tokoh pak Musa. Sehingga hampir di setiap episode, bintang tamu selalu punya kesempatan untuk menjadi pembawa rol.
BERANI, TIRANI. Dengan konstruksinya yang begitu macam, lantas memang terlihat Shahab cukup berani keluar dari kebiasaan penggarapan film seri selama itu. Meski keberanian itu, bisa menimbuklan kesan, Shahab selaku sutradara menggunakan tirani penyutradaraan. Suatu betuk pola penyutradaraan yang bisa mengandung nilai positif dan negatif dalam banjaran yang sama.
Positif, karena dengan begitu otoritasnya sebagai sutradara bisa betul-betul dimanfaatkan untuk mengendalikan seluruh unsur kreatif dalam proses pembuatan film seri ini. Dengan begitu, kolektivitas yang terkandung di dalam proses pembuatan film seri ini bisa mengacu ke satu titik konsentrasi yang satu. Negatif, karena dengan tirani itu, sutradara bisa semau-maunya. Bahkan lebih dari itu, betul-betul menempatkan dirinya sebagai kapstok.
Yang salah-salah menemaptkan dan mengendalikannya bisa membuat segenap unsur dan tidak kreatif. Kondisi demikian, secara jelas tampak dalam gambar yang bisa disaksikan pada setiap episode. Baik menyangkut karakteristik pelaku-pelakunya ataupun perangkat penunjang tata lakunya.
Misalnya, kostum yang dipergunakan pemain yang sering tak menampilkan citra masyarakat desa. Coba perhatikan busana dan aksesori yang selalu dipergunakan bu Suwito (Mieke Wijaya), orang kaya desa Cibeureum, yang amat sering kita lihat dipergunakan para istri orang kaya kota. Atau busana yang kerap digunakan bu Netty (Yona Sakina). Meski kedua tokoh ini, dalam cerita memang dilukiskan sebagai bukan penduduk asli desa Cibeureum.
Lepas dari semua itu, dari sisi lain, RMD boleh dibilang termasuk film seri yang bisa membawa pemirsanya menyelami lebih jauh tentang postur keseharian masyarakat kita. Konflik-konflik dan hubungan interpersonal yang digambarkan, ada di sekitar kita.
Juga hubungan-hubungan sosial yang (waktu itu) masih dipengaruhi pola hubungan tuan-hamba (‘patron client relationship’) yang diwakili oleh figur bu Suwito, Raden Mas Winangun, dan Raden Sumantri. Serta pola hubungan kekuasaan tradisi (‘traditional authority relationship’) yang diwakili oleh figur pak Sukri, Lurah Sena, pak Darman, dan lainnya. Hubungan sosial yang (sampai saat itu) masih kuat, hidup, dan tumbuh di tengah kita.
Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar