PROFIL SINGKAT - DON ANTONIO BLANCO
DI kalangan pecinta seni, pelukis berdarah Spanyol, Don Antonio Blanco, punya nama besar. Bukan sekadar karena keagungan karya-karyanya, tapi juga lantaran perjalanan hidupnya yang penuh romantika. Bayangkan, lebih dari setengah abad sebelum bacaan ini dimuat Bintang, Blanco menginjakkan kaki di pulau Dewata, Bali. Sejak itu, sampai bacaan ini diturunkan Bintang (1997-red), Blanco menetap di desa Campuan, kecamatan Ubud, kabupaten Gianyar.
Kata-kata itu (waktu itu) akan jadi dialog yang mewarnai Api Cinta Antonio Blanco (ACAB), sinetron produksi PT Jatayu Cakrawala Film – ANteve (Andalas Televisi). Sinetron yang dibuat sebanyak 6 episode in imengisahkan perjuangan hidup Blanco. Sejak mendarat di Bali, mempersunting Ni Ronji, hingg ajadi pelukis terkenal. Sinetron ini mengandung ari khusus buat aktris Rima Melati.
Selain jadi pemain, ACAB merupakan debutnya sebagai sutradara. Kendati (sampai saat itu) belum pernah bersentuhan dengan bidang penyutradaraan, Rima mengaku tidak mengalami banyak kesulitan. Yang membuatnya agak bingung adalah lokasi syuting, yang tentu saja sudah sangat berubah dibanding ‘tempo doeloe’.
Di Bali pula Blanco menemukan pasangan hidupnya, Ni Ronji, yang (sampai saat itu) memberinya 4 anak. “Manusia boleh dilahirkan di mana saja, tapi ia punya janji dengan tanah-tanah tertentu yang akan memberinya kehidupan, kemahsyuran,” dmeikian kata-kata yang pernah diucapkan Blanco pada Ni Ronji.
“Tahun-tahun yang kulalui di Bali, pulau tercinta, membaurkan diriku dengan lukisan, memadukan lukisan dengan cinta, menciptakan kilasan hidupku yang dikenal orang sebagai karya agung,” begitu kata Blanco. Untuk mengetahui lebih jauh tentang perjalanan hidup Blanco, (waktu itu) nantikan saja tayangannya.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi
Dok. Bintang, Edisi 328/Th. VII/minggu keempat Juni 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar