PROFIL BARAT - DAVID HASSELHOFF SELALU BANGGA DENGAN HASIL KERJA KERASNYA

 
TIDAK banyak orang seperti David Hasselhoff (waktu itu 44 tahun). Di saat orang lain banyak bicara tapi sedikit kerja, atau sibuk mengkritik kiri-kanan, ia terus berkarya dengan penuh kebanggaan. Baywatch (di Indonesia diputar RCTI, pernah pula diputar SCTV sebelum berpisah acara dari RCTI dan memulai siaran nasional-red), itulah hasilnya.

Seri televisi buatan Amerika paling laris sedunia, bahkan diklaim sebagai tontonan yang (waktu itu) dipirsa paling banyak orang di planet bumi. 1997, seri yang menuturkan kehidupan para petugas penjaga Pantai ini, sudah memasuki tahun kedelapan.

Padahal, sejak awal pemutarannya di tahun 1989, kritikus sudah dengan sinis mencemooh. Judul Baywatch diplesetkan menjadi babewatch atau Buttwatch, juga Bratwatch. Maklumlah, sebab film satu ini selalu memnajakan penonton dengan pemunculan pemain wanita cantik-seksi-berbikini di setiap episodenya. Ada pula yang memasukkan Baywatch dalam daftar ‘TV’s Top 10 Guilty Pleasures’.

Predikat macam ini biasa ditempelkan pada tontonan yang tak bermutu tapi punya banyak penggemar. Tidak tanggung-tanggung. Baywatch ada di deretan teratas! Pendek kata, Baywatch tak punya gengsi sama sekali.



























Begitupun, Hasselhoff tak pernah malu dan kecil hati. Tidak juga berang dihadang aneka kritik pedas. “memang banyak yang mengolok-olok hasil kerja saya dan teman-teman. Tapi saya tak kecil hati. Justru olok-olok mereka membuat Baywatch terkenal,” komentar Hasselhoff mengenai reputasi seri yang dimodalinya itu. Kemudian dengan penuh kebanggaan ia menjabarkan rahasia sukses Baywatch.

“Mungkin benar kami cuma menjual mimpi. Tapi mimpi yang kami jual juga tidak sembarangan. Penduduk dunia mulai dari Hongkong, Hamburg, sampai Honolulu menyukai Baywatch karena kami mencerminkan konsep yang ada di kepala mereka mengenai Amerika,” jelas Hasselhoff panjang lebar.

Prestasi lain (harap jangan sinis dulu), Baywatch terbukti berhasil mengangkat gengsi petugas penjaga Pantai. Kabarnya, pria yang pernah mengecap ilmu di ‘Academy of Dramatic Arts in Pontiac’ serta ‘California Institute of the Arts in Valecia’ ini, menerima banyak ucapan terima kasih dari mereka yang menjalani profesi itu.





















1997, setelah sedemikian lama mengudara, masih saja orang meluangkan waktu untuk mengejek Baywatch. Dan masih saja (waktu itu) Hasselhoff meyakini kerja kerasnya.

“Tidak mengapa. Yang penting kami tidak menjual tontonan yang berbahaya. Kami mempertontonkan eksyen, bukan kekerasan. Roman, bukan seks,” begitu ia menunjukkan niat baiknya dalam memproduksi Baywatch. Tahun 1995, si besar hati ini malahan mengembangkan Baywatch. Diproduksinya Baywatch Nights (di Indonesia juga diputar RCTI-red): James Bond ala Baywatch.

Terlepas dari ponten yang didapat Baywatch, tak sedikit orang yang “angkat topi” pada suami Pamela Bach (waktu itu 34 tahun) – ketika itu – serta ayah Hayley Amber (waktu itu 6 tahun) dan Taylor Ann (waktu itu 4 tahun) ini. “David adalah pekerja keras yang berusaha memberikan yang terbaik yang dimilikinya,” puji sutradara Chuck Russell yang teman baik Hasselhoff.

Tak banyak yang tahu kalau laki-laki asal Baltimore ini, juga penyanyi yang sukses. Hasselhoff punya suara bagus, yang membuat lima albumnya memperoleh penghargaan emas di Jerman dan Australia, tapi – ironisnya – cuma terjual lima kopi di tanah airnya. Karena itulah, 1997, ia sedang berjuang keras agar publik di negerinya menerima kariernya sebagai penyanyi. Itulah susahnya.

Biasa menyanyikan lagu balada dan dikenal sebagai Michael Bolton ‘of’ Eropa, di tahun 1994, Hasselhoff pernah merancang konser besar-besaran guna memperoleh pengakuan atas bakat musiknya. Konser yang (waktu itu) direncanakan digelar di Atlantic City itu, telah dipromosikan berbulan-bulan sebelumnya dengan teliti.

Sistem yang dipakai adalah ‘pay-per-view concert’ (konser lewat teve kabel, penonton harus membayar), dengan 30.000 penduduk New York mencatatkan diri sebagai penonton. Belum lagi dari kawasan Amerika lainnya. Waktu itu kelihatannya konser yang diberi nama “David Hasselhoff and His Baywatch Friends” itu (waktu itu) bakal mensashihkan nama Hasselhoff sebagai penyanyi.

Promotor (waktu itu) memperkirakan 240.000 orang di seluruh Amerika (waktu itu) akan memfokuskan mata pada si ganteng pemeran Letnan Mitch Buchannon yang beberapa tahun sebelunnya terkenal sebagai bintang opera sabun The Young and The Restless (1975-1982/di Indonesia diputar ANTV-red) serta seri Knight Rider (1982-1986/di Indonesia diputar RCTI dan SCTV-red).

Sialnya, pada saat bersamana, saluran teve lain memutar gambar O.J. Simpson sedang meluncur ke jalan tol California dengan mobil Ford Bronco putih, sementara sebaris mobil polisi membuntuti di belakangnya! Alhasil, konser itu pun tak menyubmangkan apa-apa bagi perkembnagan karier nyanyi Hasselhoff. “Tapi saya yakin suatu saat nanti impian saya akan tercapai!,” tekadnya (waktu itu). Untuk manusia setekun David Hasselhoff, rasanya memang tidak mustahil.

Ditulis oleh: Sandra Kartika (berbagai sumber)

Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer