ORANG DALAM TVRI PUN SUDAH MERATAPI MEMBANJRINYA LAGU-LAGU YANG MERATAP-RATAP ITU

ETOS, KEROPOS. Langsung tak langsung, komentar M. (Monitor) di forum jumpa pers dengan Dirjen RTF (Alex Leo-red) dan Direktur Televisi (Ishadi-red), yang dikutip banyak koran menyangkut lagu-lagu cengeng di TVRI, mendapat jawaban tegas. Menpen H. Harmoko yang menjawab itu di depan acara syukuran hari jadi TVRI ke-26, Rabu, pekan keempat Agustus 1988 (24/8/88).

“Kita tidak akan berhasil menumbuhkan semangat kerja itu apabila mata-mata acara TVRI banyak diwarnai dengan lagu-lagu ratapan patah semagnat berselera rendah, keretakan rumah tangga atau hal-hal cengeng semacam itu.” Menruut Menpen Harmoko, itu bertentangan dengan etos kerja keras. Tapi, ketika menjawab M. (Monitor), Dirjen RTF Alex Leo Zulkarnaen hanya melihat, lagu semacam itu cumalah selera semusim. (Waktu itu) akan hilang dengan sendirinya.

Apapun alasannya, Harmoko tampaknya serius dengan perkara lagu-lagu yang kerap ditayangkan Aneka Ria Safari ini. Meski dari acara penayangan lagu-lagu semacam itu TVRI memperoleh sedikti masukan tak kurang dari 20 juta perak. “Stop lagu-lagu semacam itu, kembangkan acara-acara dan program-program yang membangkitkan dinamika masyarakat dalam pembangunan.

Menpen Harmoko 

Isilah TVRI dengan program-program acara yang mengajak masyarakat berpartisipasi secara aktif. Membawa bangsa kita ke masa depan yang lebih baik.” Penayangan lagu-lagu semacam itu, sebetulnya sudah diresahkan banyak kalangan dalam TVRI sendiri. “Lagu-lagu semacam itu, khan membuat mental bangsa ini menjadi keropos,” tutur seorang pengarah acara di pusat pemberitaan.

Direktur Televisi Ishadi SK sendiri memang menayangkan produk lagu-lagu semacam itu. “Kita sepakat sama-sama kecewa pada lagu-lagu semacam itu. Selain itu, acara musik di TVRI toh bukan cuma Aneka Ria Safari saja. Kita punya banyak acara musik seperti jazz, keroncong, musik klasik, dan lainnya yang lebih baik.”

Celakanya, justru Aneka Ria Safari yang selama itu menjadi salah satu favorit khalayak pemirsa. Lebih celaka lagi, sejumlah mata acara musik lainnya, semacam Aneka Ria TVRI, Nada dan Irama, Selekta Pop, tak urung tersusup ijuga oleh lagu-lagu begini macam.

TEMATIS, MERINGIS. Kalangan pencipta lagu, agaknya tak ambil perduli soal itu. Tekanan produser yang memesan lagu-lagu semacam itu, membuat mereka tak berkutik. Meski Hamdan ATT – misalnya – sendiri merasa perlu membuat lagu-lagu tematis. Lagu-lagu yang bersentuhan dengan kehidupan khalayak sehari-hari. “Tapi mau omong apa? Kita dalam posisi sulit.”

Karenanya, Obbie Messakh pun berjaya dengan Hati Yang Luka, yang berisi penderitaan kaum perempuan yang ditempelengi suaminya. Alasannya pun sederhana saja. Tema lagu begitu macam diangkat dari realitas kehidupan keseharian. Apa betul begitu? Harmoko melihat lain. “Apa yang digambarkan itu bukanlah merpuakan kenyataan di tengah-tengah masyarakat.”

Ishadi sendiri (waktu itu) sudah punya rencana matang untuk mengolah acara musik yang lebih bermakna bagi khalayak pemirsanya. “Mulai Oktober (1988-red) kita sudah mulai akanmenayangkan produk acara musik tematis. Bimbo sudah siap membuat skripnya.” Selain itu, dia juga ingin mengembangkan acara-acara musik ‘live’.

Itu (waktu itu) sudah dimulai dengan beberapa paket Musik Malam Minggu, antara lain dengan menayangkan Karimata Jazz Band, Krakatau, Bhaskara, dan Leo Kristi. Untuk pergelaran Leo, diambil langsung dari pentas ‘live show’-nya di Gedung Kesenain Jakrata, pekan keempat Agustus 1988 lalu. Rencana Ishadi disambut baik seorang pengarah acara musik yang biasa menangani paket-paket musik ‘live’. Karena memang begitulah seharusnya.

Apalagi selama itu lagu-lagu cengeng yang ditayangkan TVRI tak lagi mempertimbangkan segi-segi estetik dan nalar. Tengok saja paket musik ARS dan beberapa paket lainnya yang menghadirkan peralatan musik di panggung tapi cuma tipuan. Artinya, instrument musik yang tanpa kabel, tanpa ‘sound system’, tapi ketika disajikan bersuara dengan sendirinya.

Karenanya wajar kalau lantas Harmoko mesti ngomong, “Di dalam produksi mata acara, terus dikembangkan unsur-unsur estetika dan sinematografis, agar penyajian acara terus menawan.” Namun, mestilah ada banyak orang yang (waktu itu) akan meringis, bila pernyataan Harmoko itu betul-betul menjadi kenyataan.

Dok. Monitor – No. 96/II/minggu ke-5 Agustus 1988/31 Agustus-6 September 1988, dengan sedikit perubahan


Komentar

Postingan Populer