NENNY SOEMAWINATA, 'GENERAL MANAGER' ANTEVE: "LAIN CERITA KALAU SAYA MENGELOLA DARI NOL"

 
MEMASUKI usia keempat, usia yang (waktu itu) masih sangat muda – semuda usia industri televisi di tanah air (ketika itu) – ANteve (saat itu) mulai memperlihatkan ‘power’-nya sebagai salah satu ‘broadcast’ yang patut diperhitungkan dalam perebutan kue iklan. Dibandingkan dengan “adiknya”, Indosiar, ANteve (Andalas Televisi) memang terkesan kurang gesit.

Boleh jadi, di awal-awal berdirinya, tidak sedikit pengamat yang menduga ANteve bakal tak berkembang lebih jauh. Tapi, sejak tahun 1995, persisnya sejak mulai membuka diri dalam ‘positioning’ pemirsanya – tidak ‘youth center’ lagi, tapi lebih bersifat ‘general’, kue iklan yang berhasil direbut ANteve jadi semakin lebar.

Tahun 1996, performa ANteve naik lagi. Malah menurut pihak ANteve, kenaikan itu mencapai 300% lebih. Boleh jadi, sebab sejumlah acara, terutama ‘news’, musik, dan ‘sport’ mampu menyedot pemasukan iklan dengan peningkatan cukup tinggi. Keberhasilan ANteve meraup kue iklan tidak terlepas dari usaha-usaha dan kerja keras dan dedikasi seluruh jajaran di ANteve, dikomandani Nenny Soemawinata, sebagai ‘general manager’ stasiun teve milik kelompok Bakrie itu.

Sebab itu, ketika jabatan ‘general manager’ dipercayakan kepadanya, Nenny tak perlu repot menentukan arah ke mana ANteve akan dibawa. “Di mata saya, arah ANteve sudah jelas,” akunya. “Kita memulai dengan anak muda. Tapi, kita tidak bisa cuma untuk anak muda, iklannya sangat kecil. Pasar belum begitu ‘fragmented’. Makanya kemudian kita buka ke keluarga,” tambahnya (kala itu).

Keluarga yang dimaksud Nenny, memiliki kriteria-kriteria tertentu. Mereka adalah keluarga yang menurut SRI (Survey Riset Indonesia) masuk dalam kategori ‘new modern Indonesia’. Yaitu keluarga terbuka, modern, profesional, tapi tidak meninggalkan akar budaya negeri sendiri. “Keluarga seperti ini sedang tumbuh di Indonesia,” paparnya.

Memang bila hanya mengandalkan anak muda, tidak ada jaminan bakal dengan mudah meraup iklan. Apalagi ANteve ‘on air’ dalam sehari semalam bisa mencapai 20-22 jam. Tapi meski agak lambat, bila ANteve terus meyakinkan diri, konsisten terhadap ‘market’ – keluarga dengan basis anak muda (era itu) – yang ingin dicapainya, peluang merebut pasar semakin terbuka.

Anak muda (era itu) yang awlanya dijadikan ‘starting point’ pada gilirannya menjadi aset yang amat berharga di kemudian hari. Disadari atau tidak, merekalah yang – (perkiraan waktu itu) bisa jadi – merupakan ‘new modern Indonesia’ di masa (yang saat itu akan) datang.

Tapi, lepas dari semua itu, hingga usianya yang kemepat, masih banyak hal yang (waktu itu) perlu dibenahi ANteve. Kemampuan untuk mengemas sebuah tayangan yang mempunyai kekuatan mengikat pemirsa dari sisi promo, ‘marketing’, agaknya (perkiraan waktu itu) masih harus mendapatkan perhatian utama.

Memang bukan persoalan gampang menjembatani dua kepentingan: kepentingan pemirsa sekaligus pemasang iklan. “Yang kita inginkan adalah semuanya menjadi ‘in line’. Bila arah kita keluarga yang ‘new modern Indonesia’, apa yang kita sajikan pun harus yang sesuai dengan ‘personality’ itu! Semuanya sajian kita mesti ada benang merahnya!,” tegas Nenny.

Bagi Nenny, ‘forward planning’ yang dimiliki ANteve, sejak awal memang kurang bagus. Apalagi bila dibandingkan dengan stasiun yang belakangan itu muncul dan dalam waktu relatif singkat melesat. “Persoalannya, saat saya masuk, sudah ada organisasinya. Lain cerita kalau saya disuruh pegang dari nol, lebih gampang,“ ujarnya.

Usaha Nenny membangun ‘forward planning’, bertumpu pada berbagai aktivitas nyata yang dilakukan saat itu. Seperti mencari struktur organisasi yang pas. Bila saat itu, ada dua deputi AGM – satu deputi program, satu deputi ‘marketing’ – di bawah satu orang, tidak lain merupakan cara Nenny untuk membuat gerakan yang lebih gesit, merebut ‘market’.

Di mata Nenny, ide-ide menjadi amat berharga. “Tak ada alasan untuk mengatakan tidak ada, untuk mengatakan tidak punya. Yang ada adalah ‘way out’, apa yang mesti dilakukan dalam kondisi demikian,” lanjut putri mantan diplomat ini.

Di atas segalanya, menruut istilah Nenny, ‘no matter what U put up there’ – teatp diperlukan dana untuk menunjang aktivitas. Dana itu didaptakan dari iklan (bisa juga dari pinjaman – baru-baru itu ANteve menerima pinjaman lunak dari konsorsium pengusaha Korea sebesar US$ 70 juta. Menurut Nenny, sebagian digunakan untuk memperluar stasiun relay, memasang ‘transmitter-transmitter’ baru).

Iklan mau kalau programnya bagus. Tapi, bisa juga, karena kemampuan menjualnya canggih. Bukankah ada pepatah, produk yang kurang bagus menjdai amat bernilai di tangan seorang penjual yang hebat. Sebaliknya, produk yang kurang bagus akan rendah harganya di tangan penjual yang lemah.

Hanya saja kita tentu tidak mengharapkan ANteve cuma bisa “menjual” saja. Sementara kualitas produknya tidak meningkat. Yang pasti, bila programnya bagus, menjualnya juga lebih gampang. Bukan begitu, mbak Nenny? (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan kepada ANteve) selamat ulang tahun.

Ditulis oleh: Lukmanoelhakim

Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan

 

Komentar

Postingan Populer