KOMPAS GRAMEDIA DAN INDOSIAR KERJASAMA MEMBUAT PAKET BERITA
REPUTASI, RAKSASA. Mau tahu gosip paling ‘hot’ yang beredar
di kalangan pertelevisian akhir-akhir itu? Itulah gosip mengenai kelahiran
sebuah perusahaan ‘news broadcasting’. Perusahaan ini (waktu itu) akan menjadi kontributor
stasiun televisi Indosiar, dalam mensuplai kebutuhan berita-berita aktual dan
akurat.
Tak ada yang perlu digosipkan dari “si janin” yang disebut-sebut bakal diberi nama PT Indomedia ini, bila saja bukan lahir atas kerjasama PT Indosiar Visual Mandiri dengan raksasa di bisnis penerbitan dan pers, kelompok Kompas Gramedia .Wajar bila kabar itu terasa menggegerkan. Selama itu, Kompas Gramedia dikenal sebagai kelompok usaha yang punya ‘network’ dengan reputasi baik.
Selain itu, sekaligus aset terpenting, Kompas Gramedia memiliki tenaga-tenaga profesional di bidangnya. Sedang Indosiar, meski hadir paling buncit (saat itu), sudah mampu mengancam posisi pendahulunya. Indosiar memiliki hampir semua perangkat yang diperlukan dalam menghadapi era televisi industri. Semua diterapkan dalam sistem produksi yang ketat, di bawah tradisi manajemen kelompok Indocement yang terkenal efisien.
Lagipula, Indosiar sudah punya ‘news department’ yang berlokasi di Jl. Balai Pustaka. Terpisahnya lokasi departemen yang memproduksi tayangan Horison Indosiar ini dengan “markas besar” Indosiar di Jl. Daan Mogot, mengindikasikan bahwa Indosiar sudah menyiapkan konsep penyiaran ‘news’-nya sejak lama.
Sebagai informasi tambahan, sejak maraknya televisi swasta di Indonesia, Kompas Gramedia memiliki rencana memasuki lahan ini. Menurut sumber BI (Bintang Indonesia), Kompas Gramedia punya 2 alternatif. Kerjasama dengan ANteve (Andalas Televisi), atau dengan Indosiar. Tampaknya karena falsafah dan tradisi perusahaan Kompas Gramedia, pilihan terakhir sekaligus yang paling tepat adalah Indosiar.
‘So’, apalagi? Masih menurut ‘rumour’, MOU (‘memorandum of understanding’) – saat itu – sudah disepakati para pejabat teras masing-masing pihak. Kabar yang sampai ke BI menyebutkan, ‘share’ investasi ini tidak jauh dari proporsi 60-40 atau 50-50. Namun sudah dipastikan, kedua pihak telah menyepakati ketentuan perihal pembagian wewenang.
Selain wewenang pengelolaan finansial, Indosiar berwewenang dalam penyediaan sarana pendukung produksi, yakni perangkat keras dan fasilitas. Sedang Kompas Gramedia diberi wewenang menentukan kebijakan redaksional, menyangkut format dan isi pemberitaan, maupun ‘type presenter’, atau jenis dan gaya penyiaran.
Selain itu, yang cukup penting, Kompas Gramedia diberi wewenang dalam bidang manajemen SDM (sumber daya manusia) atau personalia. Merekalah yang berhak menentukan kebijakan personalia. Misalnya ‘recruitment’. Tentu saja, dalam implementasi, tak selalu tepat seperti itu.
Tampaknya, kerjasama ini sangat ideal. Bagi kedua pihak, mungkin tinggal perkara mematangkan ‘point-point’ yang bisa mengoptimalkan ‘benefit’. Masyarakat luas, tentu (waktu itu) sudah tak sabar menanti. Tentunya dengan harapan kerjasama ini (waktu itu) akan membuka pelaung bagi demokratisasi informasi secara lebih luas? Tapi tampaknya kedua pihak masih malu-malu membicarakan.
Misalnya, ketika BI mendapat informasi perihal ‘recruitment’, di mana pihak Kompas-Gramedia telah melakukan seleksi terhadap para pegawai Indosiar di ‘news department’, yang seluruhnya berjumlah 32 orang, dengan 12 di antaranya kamerawan. Setelah diseleksi, hanya 12 yang lolos saringan, 6 kamerawan dan 6 reporter. Ketika dihubungi, Rio Seseno (‘executive producer’ Horison), tak banyak komentar.
“Wah, saya tidak tahu persis. Sebaiknya ditanyakan pada pak Anky (Handoko, presdir Indosiar),” katanya. Namun, ia menyebutkan beberapa nama, yang dikenal sebagai wartawan senior Kompas Gramedia sebagai pihak yang bisa memberi penjelasan lebih rinci.
Memang, menurut sumber BI, di samping konseptor kerjasama ini, merekalah yang nantinya (waktu itu) akan diserahi tanggung jawab sebagai ‘pilot operation’. Di antaranya R.B. Sugiantoro (wakil pemimpin umum Kompas), Rudy Badil (redaksi senior Kompas), dan Mayong Laksono (redaksi Intisari).
Dari keterangan ini, sebenarnya cukup mudah membuat keismpulan. Tapi, budaya ‘pekiwuh’ (sungkan) terhadap atasan di lingkungan Kompas Gramedia, tampaknya tak memungkinkan mereka memberi pernyataan lugas. “Saya sulit untuk menjawab. Gimana ya? Soalnya, masih jauh sih. Tingkat pembicaraan masih ‘sumir’. Rasanya, yang lebih pantas menjawab, ya mereka yang di atas.
Kalau saya, seperti juga teman-teman yang lain, suka ‘celingus’ (Jawa: malu). Nggak enak sama yang lain. Tanya mas Robby (panggilan akrab R.B. Sugiantoro) saja deh,” kata Mayong. Namun, R.B Sugiantoro pun mengambil sikap mengelak. “Belum ada yang bisa diinformasikan. Yang lebih berwenang untuk menjawb, pak Anky. Tanyakan saja sama dia,” katanya.
Masalahnya, tak mudah menemui Anky Handoko. Dan seperti biasa, ‘publicity’ Indosiar bersikap seolah tak tahu-menahu. “Wah, kalau soal itu, saya kurang tahu. Saya mesti menunggu konfirmasi dari pak Anky,” kata R. Satrio Hutomo (‘publicity supervisor’ Indosiar). Jadi, bagaimana nih, pak Anky? Masa juga tidak tahu?
Ditulis oleh: Heri Sugiyanto
Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar