CEDERA TANGAN+CEDERA MENYELAM=JADI BINTANG (ANDERSON)

 

Richard Dean Anderson dalam keseharian dan saat bersama aktris Marlee Matlin 



KETIKA rencana pembuatan seri Mac Gyver (di Indonesia diputar RCTI/SCTV-red), produser Henry Winkler langsung menemukan pilihan untuk pemeran tokoh ‘hero’ yang tak suka menggunakan kekerasan ini. Dan pilihannya adalah pemain opera sabun terkenal, General Hospital (di Indonesia kemudian diputar TPI-red), Richard Dean Anderson.

Dan aktor kelahiran Minnesota, 40 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1950-red) ini langsung jatuh cinta pada perannya itu. “Mac Gyver bukanlah tipe tokoh yang suka kekerasan dan sedikit-sedikit menggunakan otot dan senjata. Ia adalah seorang pembel kebenaran yang menggunakan otak. Ia seorang petualang,” kata Anderson. Bagi aktor ini, tokoh Mac Gyver itu realistis.

“Ia mempunyai reaksi-reaksi manusiawi seperti manusia pada umumnya. Ia juga berfantasi tentang petualangan. Ini mirip benar dengan jiwa saya sendiri.”

Jiwa petualangan yang dimiliki Anderson bukanlah omong kosong di mulutnya saja. Ia memang suka petualangan. Karena itu ia melakukan sendiri adegan-adegan berbahaya yang mestinay dilakukan oleh ‘stuntman’. Selama 3 tahun setengah, ia menjalani sendiri adegan-daegan berbahaya dalam Mac Gyver. Tetapi, akhirnya Anderson harus menyerah.

Pada suatu pertunjukan, ia mengalmai kecelakaan. Akibatnya ia harus mendekam di rumah sakit dan kesehatan fisiknya terganggu. Ia tak bisa lagi melakukan adegan berbahaya. Jiwa petualangan yang dimiliki Anderosn dibawanya sejak kecil. Untuk itulah, ia kemudian masuk pramuka. Dalam organisasi itulah jiwa petualangan Anderson makinb erkembnag. “Saya paling suka bermain!,” tegas Anderson.

Semangat bermain yang dimilikinya itu mengantarkannya utnuk menjadi olahragawan pada masa remajanya. Ia pernah bergabung dalam sebuah klub hoki. Menurut orang-orang yang mengenalnya, Anderson termasuk olahragawan berbakat. “Saya memang bermimpi untuk menjadi olahragawan.”

Sebagai pemain hoki, Anderson tergolong pemberani. Ia menyiapkan badannya yang atletis itu untuk beradu dengan lawan. Tetapi, impiannya tak menjadi nyata. Impian itu membeku ketika ia duduk di SMA. Ia mengalami cedera tangan. Dengan cedera itu, ia tak mugnkin lagi menjadi pemain hoki yagn baik. “Untuk penyembuhan cedera itu, saya banyak berenang.”

Tetapi, bukan soal penyembuhan saja yang menjadi masalah. Kehilangan sesuatu harapan bukanlah soal yang begitu gampang disembuhkan. Cederanya tidak begitu menyaktikan dibanding dengan punahnya Impian. Tetapi Anderson masih mempunyai modal lain selain ketermapilannya bermain hoki. Ia kemudian menjadi penyelam. Tetapi ia mengalami cedera pula.

Begitulah, hokinya tak ketemu dalam olahraga hoki. Tetapi, kemudian hokinya mulai naik dalam bidang lain: televisi. Ia mempunyai modal tampang yang menarik dan kecerdasannya cukup. Dengan modal itulah, ia akhirnya masuk ke dunia pertelevisian. Namanya menjadi terkenal ketika membintangi seri General Hospital. Tetpai bukan itu saja modal yang dimiliki Anderson. Ia orang yang pandai bergaul. “Saya punya kemampuan bekerja dalam sebuah tim.”

Pernyataan ini bukanlah bualan. Kemampuannya bekerja dalam tim telah dibuktikannya. Rupanya, banyak juga manfaatnya pengalaman menjadi pemain hoki. Dengan kebiasaan bekerjasama, ia tak canggung lagi untuk bekerja dalam sebuah tim, seperti main dalam televisi.







“Anderson adalah aktor paling enak untuk diajak kerjasama,” komentar ‘stuntman’ Vince Dadrick Jr. “Saya sudah bekerja untuk 200 pertunjukan dan belum pernah saya temui aktor seperti Anderson. Ia mau memperhatikan orang-orang yang bekerjasama dengannya. Satu-satunya masalah adalah harus mengawasinya ketat. Kalau tidak, ia akan melakukan sendiri semua adegan berbahaya.”

Dengan keberhasilan seri Mac Gyver, Anderson telah menjadi salah satu hero di Amerika. Bukan hanya remaja (era itu) yang menjadi penggemarnya. Menurut penelitian, bahkan orang-orang berusia antara (yang waktu itu) 25-54 tahun, yang (kala itu) paling banyak penggemarnya.

Dari situlah, ia bisa menikmati kehidupan enak. Ia tinggal di sebuah rumah di West Hollywood dengan garasi penuh mobil (waktu itu). Di garasi itu ada Toyota, BMW, dan sepeda motor Harley Davidson. Katanya, Toyota sebagai kendaraan terapinya, BMW sebagai simbol seorang profesional muda (era itu), dan HD sekadar untuk ‘sport’.

Tetapi, (waktu itu) masih ada saja yang hilang dari dunia Anderson. Ia masih selalu terkenang pada hoki. Kalau ia ketemu dengan teman-temannya semasa remaja dulu, mereka bisa mengobrol semalaman, berbicara tentang hoki.

Ditulis oleh: Frans Kowa

Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer